16 Oktober, 2014

Mah, Aa sono. Aa sono mulih ka lembur,,


Mamah, Aa sono. Tos tilu dinten di Bandung teh kalah bingung bade damel naon, kulintang kulinting henteu jelas kieu.” bunyi sms yang kukirim ke Mamah. Sudah tiga hari tinggal di Bandung, niatnya cari kerja tapi ternyata cari kerja di Bandung gak segampang yang dibayangkan.
Aa pengen punya kerjaan dengan usaha sendiri. Aa udah coba ngelamar dengan datangin kebeberapa tempat, kaya kafe, hotel dan toko pakaian tapi hasilnya nihil. Mereka semua nolak Aa, katanyasedang tidak ada lowongan. Minimal pendidikan juga mesti SMA, sayangnya Aa cuman lulusan Mts dari kampung. Sehari-hari belajar ngaji dan ga punya pengalaman kerja sama sekali.
Berhari-hari cuman bengong di kamar, rasanya ga semangat apalagi mau makan, udah ga ada nafsu makan. Bapak melangliat Aa banyak bengongnya, padahal Bapak udah nawarin Aa buat bantuin Bapak aja di bengkel bikin-bikin dompet, “Belajar heula weh Aa da moal langsung bisa dari pada henteu meunang pagawean wae” ujarnya.
Dari pada bengong terus dan ga dapet kerja aja akhirnya kuputuskan buat terima tawaran Bapak bantuin di bengkel. Usaha Bapak memang lagi maju-majunya, banyak pesanan dompet dan buku agenda dari perusahaan-perusahaan ternama salah satunya perusahaan telekomunikasi di Bandung. Bisnis Bapak maju pesat, keuangan keluarga pun membaik.
Perhiasan disekujur tubuh Mamah jadi bukti kalau usaha suaminya di Bandung cukup berhasil, Mamah dan keluarga sangat bangga dengan kesuksesan Bapak. Derajat keluarga kami di kampung pun naik dengan drastis, banyak tetangga yang ikut senang dengan keberhasilan keluarga kami dan berharap anaknya bisa ikut kerja dengan Bapak tapi banyak juga yang iri, mencibir dan menggosip kalau uang yang Bapak dapetin dan keberhasilan usahanya karenamunjung”.
Mamah seringkali curhat denganku dan Aangtentang cibiran tetangga. Kami sebagai anak-anaknya selalu rindu dengan kabar dan ceritanya apalagi ini pertama kalinya aku harus tinggal berjauhan dengan Mamah, berbeda dengan Aang kakakku yang sudah lebih dulu tinggal di Bandung dan punya kesibukan sendiri. Walaupun ia sibuk, Aang selalu menyempatkan waktu buat sekedar nanya kabar atau tanya sudah makan atau belum.
Aang ku jauh berbeda dengan orang kebanyakan, dia laki-laki tetapi juga seorang perempuan. Sejatinya Aang lahir sebagai seorang perempuan yang berjenis kelamin laki-laki walaupun berbeda, aku dan Mamah tetap sayang sama Aang. Aang lebih memilih tinggal di Bandung karena tidak mau Mamah dan keluarga malu karena ia seorang waria. Aang tahu Mamah, aku dan kedua adikku sayang Aang.
Oya, aku adalah anak kedua dari empat bersaudara. Aang anak pertama Mamah dari suaminya yang pertama sedangkan aku dan dua adikku adalah anak dari suami Mamah yang kedua. Aang dan adik-adiknya sangat dekat, Aang juga sayang dan perhatian kepada kami semua. Hidup yang sempurna bukan,,
Bapak sudah bertahun-tahun tinggal di Bandung, awalnya Bapak kerja pada orang lain namun lama-kelamaan Bapak coba memulai usahanya sendiri. Sayangnya usaha yang maju pesat dan keuangan yang berlimpah tidak dibarengi dengan perhatian kepada keluarga yang cukup.
Hampir satu bulan aku bantu Bapak di bengkel, hampir satu bulan juga Bapak tanya aku seperlunya. Kami tidak pernah ngobrol lama, palingan Bapak suruh aku makan atau kasi uang buat rokok, “Gera tuang A, eta artos roko aya na meja Bapak candak weh” ujarnya. Hanya itu kalimat yang Bapak lontarkan selebihnya Bapak sibuk dengan pekerjaannya.
Lewat satu bulan, aku sudah mulai mahir membuat pola, menjahit dan menjadi sebuah dompet. Aku mulai coba-coba mencari pekerjaan di tempat lain, Bapak tidak mengijinkan tapi aku keukeuh ingin mandiri dengan bekerja pada orang lain. Akhirnya kesempatan itu datang juga, ada satu perusahaan kecil di cibaduyut yang tertarik dengan kemampuanku dan mulai memperkerjakanku.
Saat itu aku yakin bisa mandiri. Setelah satu tahun bekerja, aku berkenalan dengan seorang gadis, akhirnya kami berpacaran dan tidak lama kami berdua memutuskan untuk menikah. Kami masih sangat belia, saat itu usiaku baru 20 tahun sedangkan istriku berusia 19 tahun tapi usia muda tidak jadi halangan bagi kami untuk menikah. Setahun kemudian lahirlah anak hasil pernikahan kami, anak perempuan mungil yang cantik dan berbulu mata lentik seperti ibunya.
Kebutuhan hidup keluarga kecilku makin meningkat, kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya tidak terduga yang harus dipersiapkan jika sesuatu terjadi seperti biaya ke dokter ketika si kecil sakit dan lainnya. Gadis kecilku sekarang berusia 2tahun, aku harus pandai-pandai menabungapalagi istriku tidak bekerja. Aku harus extra kerja keras menyiapkan uang untuk keluargaku dan masa depan gadis kecilku.
Ini sudah tahun ke empat aku bekerja tapi gajiku tidak bisa dibilang besar, kenaikan gaji pun ala kadarnya. Aku pun mulai jenuh bekerja di sini karena rasanya tidak ada perubahan yang besar dalam hal keuangan. Memang uang bukan segalanya tapi mendapatkan kesempatan yang jauh lebih baik rasanya layak buatku.
Pada suatu hari, aku dikenalkan oleh Aang pada sebuah lembaga bernama KAP, aku tidak mengerti lembaga macam apa ini. Aku diminta untuk mengikuti kegiatan life skill selama tiga hari. Banyak materi yang didapatkan seperti pembuatan life history, penggalian potensi diri (kelemahan dan kelebihan) dan penggalian potensi wilayah.
Aku diminta untuk memilih antara kursus atau memilih untuk magang. Kuputuskan memilih untuk magang tapi aku sendiri yang memilih tempat magangnya sesuai dengan kemampuanku dibidang pembuatan dompet. Sebenarnya tidak hanya sekedar magang, aku coba untuk bekerja di perusahaan pembuatan dompet yang lain yang skalanya lebih besar di bandingkan tempat kerjaku yang lama dengan harapan gaji yang didapatkan akan jauh lebih besar.
Selang satu bulan menjalani proses magang, lembaga KAP mengadakan pelatihan kewirausahaan selama dua hari. Materi yang diberikan menggugahku untuk memiliki usaha sendiri, materi yang paling kusukai ada dua; model bisnis kanvas dan simulasi bisnis. Rasanya seperti berada dalam pusaran bisnis betulan, mengalami untung dan rugi dan bagaimana mengatur strategi dalam menjalankan bisnis. Aku dan kelompokku mengalami kerugian besar ketika materi simulasi bisnis. Biaya yang dikeluarkan cukup besar sedangkan barang produksi kurang terkontrol kualitasnya alhasil kami merugi.
Pulang pelatihan banyak segudang ide berkecamuk dalam pikiranku, rasanya ingin cepat-cepat menyelesaikan proses magang kerja dan memulai usaha sendiri. Namun jika dipikir-pikir lagi, aku tidak punya modal usaha. Tidak ada dana besar untuk punya usaha sendiri, bayang-bayang ketika pelatihan terus saja mengikutiku. Pendampingku mengatakan untuk memulai usaha tidak melulu menggunakan uang, manfaatkan peralatan yang ada dan perluas jaringan.
Aku curhat pada Aang, rupanya Aang menyambut baik keinginanku. Aang rela menjual handphone terbarunya demi niatku, betapa trenyuhnya aku pada pengorbanan Kakak laki-lakiku ini. Rupanya Bapak mendengar niatku untuk punya usaha sendiri, Bapak datang ke tempatku tinggal yang nota bene rumah mertuaku. Bapak datang dengan terisak dan meminta maaf kepadaku karena sudah menjauhkan dirinya dengan keluarganya terutama dengan Mamah.
Saat itu usaha ayah sudah bangkrut. Semuaproduksi pesanan dihentikan oleh Bapak, Bapak mulai tidak realistis ujarnya. Perusahaan langganan Bapak pun sangat kecewa dengan keputusan sepihaknya dengan menghentikan produksi. Bapak lalu menghilang selama satu tahun, pantas saja rumah Bapak dan bengkel selalu kosong ketika kudatangi. Tidak ada yang tahu kemana ia pergi yang aku ingat Mamah hanya menangis ketika kutanya di mana keberadaannya dan seingatku perhiasan yang Mamah gunakan pun tidak bersisa sedikitpun.
Aa hapunten kalepatan Bapak nya bageur, Bapak seueur lepat Ka Aa, Mamah, ka Aang, ka sadayana. Bapak teu tiasa masihan nanaon ka Aa, di bengkel aya mesin juki hiji tiasa dianggo ku Aa kanggo ngadamel usaha nyalira, mugi-mugi mangpaat nya A” ujar Bapak dengan lirih.
Bapak memberiku sebuah mesin juki sebagai modal awal, aku merasa sangat senang sekali Tuhan memberikan jalan. Sesaatteringat nasehat penyemangat Mamah untukku kalau jika ada niat dan kita berusaha, pasti Tuhan tidak akan tinggal diam. Aang juga selalu memberikan support padaku untuk maju serta tidak ragu untuk menggelontorkan uangnya demi memodaliku.
Ya memang, cerita harus segera di mulai. Diantara proses magangku, aku mulai juga usahaku sendiri. Kukumpulkan beberapa teman yang sudah punya kemampuan membuat dompet sebagai pegawai, melalui mereka pula aku dapat informasi kalau salah satu brand sedang ingin membuat dompet. Kuberanikan diri mendatangi pemilik brand tersebut dan menawarkannya agar mau mau membuatnya di tempatku. Alhamdulillah brand tersebut setuju, ini produksi awalku sebagai seorang wirausahawan walauuntuk produksi pertama jumlah pesanannya tidak banyak.
Kami memproduksi pesanan dompetnya dengan hati-hati dan tepat waktu, rupanya mereka puas dan berniat untuk menambah produksi. Tidak berselang lama dari situ, salah satu brand distro di jakarta pun memberi penawaran produksi melalui salah satu temanku yang juga bekerja bersamaku membangun usaha ini. Cukup fantastis buatku, mereka ingin memproduksi dompetnya 300 buah per minggu.
Ya Tuhan semuanya mulai terwujud denganperlahan dan semuanya untuk keluargaku, anak dan istriku, Mamah, Bapak, Aang dan kedua adikku. Segera kukirimkan smsberita bahagia ini kepada Mamah di kampung, “Mah, alhamdulillah. Ku doa Mamah ka Aa, ku kanyaah Mamah ka Aa, ayeuna Aa tiasa ngawujudkeun mimpi Aa. Aa sono ka Mamah, mugia Mamah sehat. Aa sono mulih ka lembur ke Aa mulih kaditu minggu payun Mah”.
Jadi teman, apa mimpi kalian?


18 Maret 2014





Tidak ada komentar: