27 November, 2009

Buku untuk Dumilah

Kami bertemu pada saat yang kurang tepat. Aku, 'Dumilah' duduk memandangi bulan di kursi taman, pada saat itu pikiranku terbang pada sebuah kalimat ciptaanku, “Tepatnya sudah 5 tahun yang lalu semenjak aku mulai memutuskan untuk menempatkan hati pada ujung kanan yang paling belakang”. Labirin di sekeliling taman begitu mendukung keputusan penempatan rasa, kami (labirin dan aku) sama-sama belum menemukan akhir dari cerita.

Dari langit sebelah kiri muncul cahaya yang tiba-tiba jatuh, aku dan labirin mengangkat tangan, pertanda sama-sama tidak mengerti…

Dumilah dan labirin bertanya-tanya dengan hembusan basah dari bibir-bibirnya, Dumilah dengan dua katup bibirnya dan labirin dengan teka-teki bibirnya yang penuh jelajah.

Cahaya yang jatuh itu sekarang berada di depanku tapi posisinya membelakangiku, dalam beberapa hari dia berada pada posisi yang sama tapi ketika hari ke-28 cahayanya membalik dan berhadap-hadapan denganku. Cahaya itu memiliki semua yang ada pada diriku, mata yang sama, hidung yang sama, tangan-kaki yang sama, keinginan yang sama (sepertinya) dan dia memiliki sebuah nama, Fritz.

(Pada hari ke-29) Aku dan Fritz mulai berbincang; Fritz menjelaskan mengenai kedatangannya di taman ini pada malam ke-28 itu. Ternyata Fritz datang bersama mimpi yang membisikkannya dari atas sumur kering yang dinding-dindingnya berongga, Fritz tertidur di dasarnya. Dalam mimpinya, Fritz bersama seorang gadis kecil berkepang dua berjalan pada sebuah lorong. Lorong yang dimasukinya tidak cukup besar tapi cukup untuk satu badannya yang mungil. Pada dinding lorong itu banyak tertempel lukisan-lukisan aneh salah satunya lukisan tentang empat balon kecil dan satu balon sangat besar. Ke-empat balon kecil itu berwarna hijau, biru, kuning, merah sedangkan yang besar berwarna hitam pekat, selanjutnya gadis itu tidak terlalu memperdulikan keberadaan lukisan balon-balon itu.

Mereka melanjutkan perjalanannnya. Pada penghujung lorong ada sebuah pintu hijau bertuliskan, “comment allez vous?”. Si gadis berkepang kemudian masuk. Di dalam ruangan itu terdapat rak-rak kayu berisi buku layaknya sebuah perpustakaan. Dilihatnya satu-per satu buku-buku pada rak pertama,….gadis berkepang terkejut karena semua buku yang ada dihadapannya bertemakan Tuhan diantaranya; Taman bermain Tuhan, Boneka-boneka Tuhan, Musik Tuhan pada sebuah taman. Buku terakhir inilah yang dia putuskan untuk dibaca. Pada halaman pertama terdapat tulisan, “Kelahiran melalui proses yang berputar-akan tetap mabuk untuk menemukan kematian kemudian hidup lagi dan kehidupannya yang kedua akan berakhir pula dengan kematian dalam keadaan mabuk”. Pada halaman kedua tertulis, “Swing, musik yang paling menggairahkan untuk membuat kita tetap berteman dan bertanya pada Tuhan”. Pada halaman ketiga Fritz terbangun dan mendapatkan dirinya dalam sebuah taman labirin. Fritz nampak sangat bersemangat sekali..

Aku, Dumilah begitu terkagum-kagum dengan cerita Fritz, kalau saja aku diberi kekuatan untuk bisa bermimpi lagi. Dulu mimpiku bercerita tentang sebuah ketetapan nistha yang tidak kunjung habis, tentang gadis India dalam cerita Tagore yang melempar manikam merahnya kejalanan untuk mencari perhatian pangeran berkuda, mimpi lain yang tidak jauh berbeda dengan Fritz adalah tentang balon-balon. Dalam mimpiku ada 3 balon pada sebuah taman kota yang selalu diikatkan pada guillotine, ya… memang taman kota yang berada dalam mimpiku merupakan tempat eksekusi para penjahat dan tiga balon itu selalu mengiringi kepergian para penjahat bersamaan dengan terpenggalnya kepala-kepala mereka.

Balon pertama berwarna hitam, kedua merah dan yang ketiga berwarna hijau. Balon hitam melambangkan Tuhan, merah melambangkan kejahatan, sedangkan hijau melambangkan algojo (si pemenggal kepala), mimpi selalu saja berakhir ketika kepala dipenggal dan balon mulai dilepas, seolah-olah memberitahukan pemenggalan adalah proses hidup.
Setelah mimpi taman guillotine, aku mengalami kesulitan melanjutkan mimpi-mimpi, lalu aku mulai menulis sebuah buku mengenai skenario-skenario kelanjutan mimpi. Skenario yang aku buat agak melenceng dari tujuan awal mimpi yang datang, aku manambahkan 1 balon berwarna kuning diantara ketiga balon, aku juga menambahkan cerita percintaan.

Wanita dalam ceritaku adalah wanita yang paing diinginkan baik oleh Tuhan, penjahat dan algojo. Sebelum adanya rutinitas prosesi pemenggalan ketiganya saling bersahabat. Mereka selalu bersama-sama dalam berdiskusi, mabuk dan berpetualang sampai akhirnya mereka harus terpisah karena wanita yang sama-sama mereka cintai. Wanita itu adalah pendongeng, banyak sekali anak-anak yang menyukainya karena cerita-ceritanya membuat anak-anak bahagia.

Suatu saat sang wanita bercerita kepada anak-anak di taman yang ditempati oleh Tuhan, penjahat dan algojo. Cerita yang disampaikan begitu mengalir dan seolah-olah hidup, anak-anak menjadi begitu bersemangat. Ternyata cerita-ceritanya juga menarik perhatian Tuhan, penjahat dan algojo sampai pada akhirnya mereka ikut mendengarkan hingga cerita yang keseratus.

Pada akhir cerita ke seratus, ketiganya merasakan jatuh cinta yang betul-betul elegan. Banyak usaha-usaha yang mereka lakukan untuk membuat si wanita tertarik, mulai dari tawaran untuk melihat surga dan neraka, memberikan berlian hasil curian dari surga sampai meminjamkan koleksi kapak yang paling tajam diseluruh arena jagat raya.

Sayangnya semua tawaran itu ditolaknya, tidak satu pun yang membuat pendongeng begitu berarti, tidak ada satupun yang membuat pendongeng bahagia selain membuat anak-anak bahagia.

Dia sadar jika dia memilih maka dia hanya akan dijadikan sebuah cerita.

Pada akhir masa, pendongeng justru jatuh cinta kepada seorang filosof, dia lebih memilih untuk menerima tawaran perkasihan dari seorang filosof yang bertempat tinggal di sudut taman. Skenario Dumilah berakhir sampai disini.

Fritz takjub tidak percaya dengan imajinasi mimpi Dumilah yang hampir sama dengannya, mimpi yang juga berada dalam buku pikiran karya Fritz dengan berjudul “Mimpi dalam mimpi”. Sebelumnya Fritz selalu ketakutan mimpinya akan diketahui oleh Tuhan tapi setelah mendengar cerita Dumilah, Fritz semakin yakin bahwa mimpinya sudah diketahui oleh Tuhan karena sebagian kecil mimpi-mimpi yang datang mungkin rekaan Tuhan.

Tiba-tiba saja Dumilah menjadi sangat khawatir dan gelisah jika skenarionya akan dicuri Tuhan untuk diberikan kepada mimpi orang lain……………………………………………………………...

Keadaan menjadi sangat hening, akhirnya Fritz dan Dumilah bersepakat untuk saling memberikan karyanya dalam mimpi yang akan mereka lewati malam ini secara sembunyi-sembunyi. Mereka bersepakat untuk tidak bangun lagi demi menjaga buku-buku mereka dan mimpi-mimpi mereka. Mereka berjanji untuk bertemu dalam mimpi, untuk berjuang mempertahankan buku-buku. Dumilah berencana untuk meminjam kapak algojo dan meminta bantuan labirin untuk menyakiti semua pencuri mimpi.


April-Mei 2002

26 November, 2009

perang umput 1

Peperangan dimulai ketika kita tidak meyakini adanya bintang. Tidak meyakini adanya padang ilalang, tidak meyakini adanya kunang-kunang juga salam sapa, tetapi senyum, obsesi dan mimpi akan mengubah peperangan menjadi menjadi realita indah yang tidak hanya dimainkan dalam panggung. Ketika salam sapa menggema diantara lorong-lorong rumah, itu menjadi sebuah pertanda bahwa tidak ada peperangan dalam hati dan rumput pun kembali hijau.

Lelaki tanpa wajah………….




Memandang dari sudut kerudungnya
Matanya sama sekali tak terlihat, bahkan wajahnya ikut bersembunyi
Rambut-rambut tipis menyembul dari kerudung
Hitam dan nampak seperti mendung

Kami tidak saling berbicara walau kami sudah bersama semenjak cahaya dari bintang jatuh ke dalam sumur, tepatnya 28 hari yang lalu. Fairy tale yang kudengah dua puluh tahun yang lalu dari ibu merupakan cerita awal dari perjalanan hidup lalu berlanjut dengan cerita sumur…Knock knock…kuketuk pintu sumur…..hallo ada orang di dalam?
Lelaki tanpa wajah berdiri dingin di sampingku, tanpa suara, tanpa detak, tanpa darah….
Lelaki tanpa wajah meraba wajahku…dingin, tangannya mulai basah..seperti air dingin yang menyiram wajahmu ketika suhu menunjuk 15 derajat celcius…….
Kupegang jemarinya yang merabai wajahku dan saat itu aku tahu mengapa dia mendatangiku…..



10:18 AM, room 318-171109

//ROOM 318

Selamat tidur, mimpi yang indah. Kalau kamu engga bisa tidur jangan ragu untuk menghubungiku.
Aku pikir aku pasti akan tidur nyenyak, apalagi menyadari kalau kamu begitu peduli.
Jangan ragu….
Aku menunggu walaupun aku akan sangat nyenyak dan tak sanggup untuk menghubungimu karena kantukku
Jangan ragu, aku pasti bisa membuka pintumu walau kau sudah terlelap
Then..wake me up, agar aku bisa memeluk, memandangmu sampai puas dan berharap tak ada esok hari
Lalu kita akan minum wine sambil memandangi kota Praha dimalam hari dari atas beranda Phoenix.
Lalu kita akan bicara banyak hal seperti pekerjaan, Michael frank hingga Rondo Alla Turca.
Antonio’s Song dan Rondo Alla Turca…be part of my life, please?
I’d like tapi suatu saat kamu pasti akan terbangun dan menyadari bahwa cerita kita hanya jadi bagian dari mimpi, hanya akan ada di dunia mimpi, tidak akan betul-betul terwujud. Lalu aku akan mendengarkannya sendiri, aku hanya akan ditemani wine lagi.
Dua tahun aku menunggu untuk mengatakannya, dear..
Then why? Two years ago you just silent and talking about another topic..
Dua tahun yang lalu aku masih ragu dan berusaha untuk meyakini diri bahwa aku memang ingin menjadi bagian darimu. Tidak betul-betul dalam kehidupan normal. Tapi sekarang berbeda, mata ketiga mengatakan padaku bahwa kehidupan tidak normal tidak perlu menjadi peperangan. “Nikmati dan nyatakan dengan hatimu..” ujarnya.
Tetap saja menjadi peperangan.
Kita tidak perlu banyak bicara, aku tidak akan banyak bicara.
Chicken noodles atau fried pork crispy?
Tidak perlu banyak bicara !

Lalu kami saling mendekatkan diri, saling memandang dan lebih mendekat, 10 cm menjadi 5 cm kemudian 1 cm lalu tanpa jarak lagi. Akan menuju kemana perjalanan peperangan kami?

I’m yours, so lock the door and open the cork
White or the red one?
White, please.

Dia tidak betul-betul membuka penutup gabusnya, dia bahkan tidak betul-betul mengetuk pintuku atau memasuki room 318………



12:06, Central Phoenix-311009.