Peperangan dimulai ketika kita tidak meyakini adanya bintang. Tidak meyakini adanya padang ilalang, tidak meyakini adanya kunang-kunang juga salam sapa, tetapi senyum, obsesi dan mimpi akan mengubah peperangan menjadi menjadi realita indah yang tidak hanya dimainkan dalam panggung. Ketika salam sapa menggema diantara lorong-lorong rumah, itu menjadi sebuah pertanda bahwa tidak ada peperangan dalam hati dan rumput pun kembali hijau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar